4 Manfaat Utama Menulis Buku Bagi Dosen

07/03/2021 1675

Menulis buku rupanya bisa untuk semua kalangan. Banyak manfaat yang didapatkan dari menulis buku, termasuk para dosen. Siapa sangka ada banyak manfaat menulis buku yang menguntungkan bagi dosen. Selain mendapatkan keuntungan finansial jika buku tersebut laku, ada juga tanggungjawab sekaligus tugas untuk kenaikan jabatan.

Dosen berkewajiban menyampaikan materi perkuliahan kepada mahasiswa di kelas sebagai bagian dari usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Meskipun demikian, dosen tidak hanya berkewajiban untuk melakukan proses pengajaran di dalam kelas semata, tetapi juga melakukan hal produktif lain dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. Tapi kewajiban seorang dosen tidak hanya di dalam kelas. Salah satu hal yang sebenarnya bisa menjadi beban moral sekaligus kewajiban dosen adalah menulis buku. Seorang pengajar, khususnya dosen, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari aktivitas menulis, baik buku ataupun jurnal. Hal tersebut dilakukan untuk mengasah kemampuan akademik dosen sebagai kelompok intelektual. Bahkan kondisi tersebut juga cukup berpengaruh pada jumlah buku yang beredar di Indonesia. Fakta di lapangan, buku yang terbit di Indonesia masih cukup sedikit. Sebagai akademisi, melihat fakta tersebut dosen juga harus ikut bertindak supaya kondisi buku di Indonesia semakin baik. Untuk itu muncullah gerakan menulis buku bagi akademisi. Jika seorang menulis buku, ada tiga manfaat yang dapat dosen rasakan. Berikut ulasannya.

1. Tanggungjawab Moral, Meningkatkan Jumlah Buku Publikasi

Baru seperdelapan (0,125%) dosen dari 45 perguruan tinggi negeri dan 1400 perguruan tinggi swasta di Indonesia yang telah menulis publikasi, baik dalam bentuk jurnal, artikel, atau buku (Leo, 2010). Padahal seluruh dosen yang ada di Indonesia diperkirakan berjumlah 1.850.000 orang akademisi. Hal tersebut juga bisa dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan setiap tahun di Indonesia hanya berjumlah 3000 judul. Kondisi tersebut tentu kalah jauh apabila dibandingkan dengan Inggris yang menerbitkan 60000 buku per tahun dan Amerika Serikat yang menerbitkan 100000 per tahun.

Salah satu faktor yang dituding menjadi penyebab rendahnya jumlah buku yang diterbitkan setiap tahun adalah masih kurangnya minat baca di kalangan masyarakat. Apabila tingkat minat baca masyarakat tinggi, maka bisa diprediksi akan banyak penulis di kalangan masyarakat tersebut, begitu juga sebaliknya. Banyak orang masih menganggap bahwa mereka malas menulis karena masih ada banyak hiburan yang lebih menghibur daripada menulis.

Kondisi tersebut semakin ironi ketika jumlah dosen yang ada di Indonesia juga kurang dalam hal untuk menerbitkan tulisannya sendiri. Sebagai seorang pengajar, menulis buku tentu menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh dosen. Apabila ditilik lebih jauh, dosen sebenarnya cukup memiliki potensi yang lebih dalam hal menulis buku. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari berbagai pengalaman penelitian yang dilakukan dosen sebagai bagian dari kewajiban yang harus dilakukan di lingkungan akademis.

Berbagai penelitian yang dilakukan dosen, baik berasal dari proyek ataupun individu tentu bisa dijadikan sumber inspirasi untuk menulis buku. Kondisi yang demikian seharusnya dapat mendorong dosen untuk menerbitkan buku referensi sebagai tambahan sumber ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari oleh mahasiswa di kelas. Bahkan dengan menulis buku, dosen justru tidak dirugikan, tetapi diuntungkan dengan banyak hal.

2. Menunjang Kenaikan Pangkat

Pengajar, dosen, dan widyaiswara yang menerbitkan buku pada dasarnya akan mendapatkan manfaat menulis berupa nilai angka kredit yang tinggi untuk kenaikan pangkat. Tidak hanya akan mendapatkan kenaikan pangkat secara lebih cepat, penerbitan buku yang dilakukan oleh dosen juga dapat berkontribusi untuk meningkatkan nilai akreditasi lembaga tempat mereka bekerja. Merujuk pada hal tersebut, apabila akreditasi institusi pendidikan yang menjadi tempat mengajar dosen yang bersangkutan, maka secara tidak langsung akan membuat citra dosen-dosen yang ada di dalamnya juga bagus. Dengan kata lain, kualitas dosen yang ada di institusi tersebut tidak diragukan lagi kemampuannya karena mendapatkan akreditasi yang cukup baik.

3. Membangun Personal Branding untuk Kepentingan Karir dan Masa Depan

Tidak terlalu banyak orang yang berprofesi sebagai penulis di Indonesia sehingga orang menganggap penulis sebagai profesi yang “wah” dan layak menjadi panutan. Untuk dosen sendiri, jika sudah menjadi seorang penulis, ilmu yang diberikan terkesan lebih valid dan tidak perlu diragukan lagi. Setelah menjadi seorang penulis, bisa jadi anda akan sering diminta untuk mengisi suatu seminar untuk membaikan ilmu anda.

Buku juga bisa sebagai masterpiece atau portofolio. Yaitu menjadi bukti nyata karya anda. Karya yang tidak semua orang mau membuatnya. Dengan cara ini pula buku yang ditulis bisa langsung dipakai sebagai media transfer ilmu kepada mahasiswanya. Buku yang ditulis dosennya sendiri akan lebih diterima oleh mahasiswa karena isinya sama dengan materi yang diberikan oleh dosen di kelas dan dengan gaya penyajian dosen itu. Selain untuk mahasiswanya sendiri, buku yang ditulis seorang dosen juga bisa dipasarkan untuk orang lain. Jangan takut berbagi ilmu karena ilmu yang kita bagikan tidak akan pernah habis, melainkan malah bertambah. Dengan berbagi ilmu maka kita akan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain. angan salah juga dengan menerbit buku secara tidak langsung dosen akan membangun jenjang karirnya sendiri.

Dosen yang menerbitkan buku pada dasarnya akan mendapatkan manfaat menulis berupa nilai angka kredit yang tinggi untuk kenaikan pangkat. Tidak hanya akan mendapatkan kenaikan pangkat secara lebih cepat, penerbitan buku yang dilakukan oleh dosen juga dapat berkontribusi untuk meningkatkan nilai akreditasi lembaga tempat mereka bekerja. Merujuk pada hal tersebut, apabila akreditasi institusi pendidikan yang menjadi tempat mengajar dosen yang bersangkutan, maka secara tidak langsung akan membuat citra dosen-dosen yang ada di dalamnya juga bagus. Dengan kata lain, kualitas dosen yang ada di institusi tersebut tidak diragukan lagi kemampuannya karena mendapatkan akreditasi yang cukup baik.

Selain itu dosen akan mendapatkan angka kredit ketika menerbitkan buku. Angka kredit dibutuhkan sebagai syarat kenaikan pangkat/golongan. Dengan menulis buku, anda bisa mendapatkan 20 poin untuk buku ajar dan 40 poin untuk buku referensi. Angka yang tidak sedikit jika anda menerbitkan 1 judul per tahun untuk masing-masing jenis buku.

4. Manfaat Untuk Diri Sendiri dan Lingkungan Sekitar

Buku yang ditulis bisa langsung dipakai sebagai media transfer ilmu kepada mahasiswanya. Buku yang ditulis dosennya sendiri akan lebih diterima oleh mahasiswa karena isinya sama dengan materi yang diberikan oleh dosen di kelas dan dengan gaya penyajian dosen itu. Selain untuk mahasiswanya sendiri, buku yang ditulis seorang dosen juga bisa dipasarkan untuk orang lain.
Jangan takut berbagi ilmu karena ilmu yang kita bagikan tidak akan pernah habis, melainkan malah bertambah. Dengan berbagi ilmu maka kita akan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Dari sisi finansial, seorang dosen bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari royalti. Besarnya royalti biasanya berkisar 10-30% tergantung kesepakatan dengan penerbit buku. Besar pendapatan juga dipengaruhi berapa banyak buku yang terjual. Bagi seorang dosen, akan lebih mudah dalam pemasaran karena berinteraksi langsung dengan calon pengguna buku itu sendiri yaitu mahasiswa.

Namun, anda juga bisa menjual buku anda ke marketplace sudah banyak berkembang di Indonesia. Ada juga beberapa penerbit buku yang menyediakan marketplace sendiri dalam pemasaran buku cetakannya. Mungkin ada orang di luar sana yang kesulitan mencari buku referensi seperti yang anda tulis.

Sumber: https://01buku.blogspot.com