Guru Juga Bisa Menjadi Penulis Buku Best Seller

02/03/2021 735

Setiap penulis di manapun selalu punya mimpi untuk menghasilkan karya yang best seller. Tentu saja, penulis mana yang tidak bangga kalau buku yang dia tulis, dipajang di etalase paling depan di toko-toko buku terkemuka, banyak mendapat komentar positif dari pembaca, serta dicetak ulang berkali-kali. 

Namun menulis buku yang best seller tidaklah mudah. Apalagi kalau buku-buku tersebut tidak bergenre pop yang lebih banyak disukai pembaca dari berbagai kalangan usia.

Tetapi jangan patah arang dulu. Sebab, menurut Widyaiswara LPMP Jatim, Dr.Marjuki, M.Pd, setiap orang bisa menulis buku yang best seller, apapun latar belakang penulisnya serta genre yang dipilihnya. Hanya saja, untuk itu, ada strategi-strategi yang harus dijalankan.  

Hal ini dia nyatakan saat menjadi narasumber dalam webinar  bertajuk "Ayo Menulis Buku: Katakan dan Ceritakan Dengan Buku" yang digelar LPMP Jatim secara daring menggunakan aplikasi Zoom beberapa waktu lalu 

Menurut Marjuki yang pernah menerbitkan 17 buku, semua orang diberi anugerah dan potensi oleh Allah SWT untuk melakukan sesuatu, termasuk menulis buku.

“Kuncinya apa? Kita harus percaya diri. Jadi mulai hari ini kita berusaha lahir batin supaya kita kuat, mensyukuri nikmat Allah dengan membuat buku,” ujarnya memotivasi.

“Kalau alasan untuk tidak menulis, kita punya banyak. Tetapi mari kita buat satu alasan saja yang mengharuskan kita untuk menulis,” sambungnya.

Lalu bagaimana cara untuk mulai belajar menulis?

Untuk para pendidik yang baru akan mulai menulis, Marjuki membagi beberapa tips.

Pertama, guru atau pendidik bisa memulai dengan membentuk tim dan menulis secara ‘keroyokan’.

“Saya sudah melakukannya, tidak langsung solo (menulis sendiri), tapi keroyokan. Ada beberapa buku saya yang dibuat secara tim,” kata penulis buku "Let's Change For Better Generation: Catatan Perjalanan Sang Widyaiswara” tersebut.

Kedua, bagi pendidik yang akan menerbitkan bukunya, tidak ada salahnya untuk meminta komentar dan kritik dari orang-orang yang secara keilmuan sudah mumpuni. Misalnya, para profesor atau guru besar. Syukur-syukur apabila para tokoh tersebut berkenan komentarnya ditampilkan dalam buku.

“Ini menarik sekali bagi para pembaca,” lanjutnya.

Tips berikutnya, guru atau pendidik dapat menulis tentang materi-materi penting yang akan dibagikan dalam kegiatan-kegiatan pelatihan yang menjadikannya sebagai narasumber. Dengan demikian, setidaknya sudah ada ‘market’ yang berpeluang besar membeli buku yang telah ditulis tersebut. Apalagi, secara materi, para peserta pelatihan tersebut tentu membutuhkan konten penting yang dibagikan di dalam buku.

“Gagasan-gagasan yang telah saya tulis, kemudian saya latihkan. Mereka jadi lebih paham. Ini membuat mereka tertarik,” tuturnya.

Yang tak kalah penting, pendidik yang telah menerbitkan bukunya, dapat meminta testimoni dari pembaca. Hal tersebut nantinya dapat mendongkrak nilai jual buku.

“Manfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain. Ini akan menambah promosi,” tegasnya.

Selengkapnya Baca : lpmpjatim.kemdikbud.go.id